Buka Akses Kaur–Muara Enim, Pelabuhan Linau Berpotensi Jadi Jalur Strategis Distribusi dan Ekspor

Keterangan Gambar : Bupati Kaur dan Bupati Muara Enim saat meninjau pelabuhan Linau


MAJE, Kominfo– Bupati Kaur Gusril Pausi, S.Sos., M.AP bersama Bupati Muara Enim H. Edison, S.H., M.Hum meninjau kawasan Pelabuhan Linau di Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Jumat (22/5/2026). Peninjauan tersebut dilakukan dalam rangka mematangkan rencana kerja sama pembangunan jalan penghubung antara Kabupaten Kaur dan Kabupaten Muara Enim, sekaligus mendorong pemanfaatan Pelabuhan Linau sebagai jalur strategis distribusi komoditas perkebunan dan sumber daya alam.

Kunjungan kedua kepala daerah itu menjadi langkah lanjutan dalam penjajakan kerja sama pembangunan jalan penghubung sepanjang 57 kilometer yang nantinya akan membuka konektivitas baru antara Kabupaten Kaur, Bengkulu dan Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Jalur tersebut diharapkan menjadi akses strategis yang menghubungkan kedua wilayah yang selama ini dipisahkan Pegunungan Bukit Barisan dan kawasan Hutan Lindung Raje Mendare.

Bupati Kaur Gusril Pausi mengatakan peninjauan ke Pelabuhan Linau merupakan bagian dari upaya melihat langsung potensi pelabuhan yang nantinya diproyeksikan sebagai jalur transportasi laut dan distribusi komoditas unggulan.

“Ini juga merupakan kunjungan balasan. Sebelumnya kami bersama jajaran telah berkunjung ke Muara Enim untuk membahas rencana kerja sama antardaerah, salah satunya terkait konektivitas jalan sepanjang 57 kilometer serta pemanfaatan Pelabuhan Linau sebagai jalur transportasi distribusi hasil perkebunan dan sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Muara Enim” ujar Gusril.

Menurut Gusril, Pelabuhan Linau memiliki potensi besar sebagai jalur transportasi laut yang strategis. Ke depan, pelabuhan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana distribusi komoditas perkebunan dan sumber daya alam dari Kabupaten Muara Enim maupun daerah lain di sekitarnya.

“Pelabuhan Linau memiliki potensi besar sebagai jalur transportasi laut yang strategis. Ke depan kami berharap pelabuhan ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dan distribusi komoditas perkebunan serta sumber daya alam yang dimiliki Muara Enim maupun daerah lain” katanya.

Ia menjelaskan, apabila akses jalan tersebut terealisasi, Pelabuhan Linau dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai jalur distribusi berbagai komoditas unggulan seperti kopi, minyak sawit hingga batu bara dari Kabupaten Muara Enim. Selain memperpendek jarak distribusi, konektivitas ini juga diyakini akan membuka peluang ekonomi baru yang saling menguntungkan bagi kedua daerah.

Gusril juga optimistis terbukanya akses menuju Muara Enim akan memberi dampak positif bagi Kabupaten Kaur, terutama dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, hingga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di wilayah perbatasan.

“Jika nantinya Muara Enim dan Kaur benar-benar terkoneksi, tentu manfaatnya akan sangat besar bagi kedua daerah. Bukan hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga akan mendorong pembangunan infrastruktur serta membuka peluang-peluang usaha baru bagi masyarakat” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Muara Enim H. Edison menyampaikan Pemerintah Kabupaten Muara Enim bersama Pemerintah Kabupaten Kaur saat ini telah menyiapkan kajian serta proposal sebagai langkah awal pembangunan jalan penghubung tersebut. Dokumen itu nantinya akan diajukan bersama OPD terkait ke Kementerian Kehutanan sebagai usulan pinjam pakai kawasan hutan lindung, mengingat jalur yang direncanakan melintasi kawasan hutan lindung.

“Saat ini kami bersama Pemerintah Kabupaten Kaur juga sudah menyiapkan kajian dan proposal. Nantinya bersama OPD terkait dokumen tersebut akan diajukan ke Kementerian Kehutanan sebagai usulan pinjam pakai kawasan hutan lindung guna mendukung pembangunan jalan penghubung antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Kaur” ujar Edison.

Ia menambahkan, saat ini Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tengah membangun Pelabuhan Internasional Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin yang merupakan Proyek Strategis Nasional. Namun jika konektivitas antara Kabupaten Kaur dan Muara Enim terbuka, distribusi hasil sumber daya alam dari Muara Enim akan memiliki alternatif jalur yang lebih dekat dan efisien melalui Pelabuhan Linau.

“Provinsi Sumatera Selatan saat ini sedang membangun Pelabuhan Internasional Tanjung Carat. Tetapi apabila akses antara Kaur dan Muara Enim terbuka, otomatis jarak distribusi akan lebih singkat dan efisien. Distribusi hasil sumber daya alam dari Muara Enim nantinya bisa terbagi, sebagian melalui Pelabuhan Tanjung Carat dan sebagian lagi melalui Pelabuhan Linau, karena dari sisi jarak tentu lebih menguntungkan” ungkap Edison.

Menurutnya, terbukanya jalur penghubung tersebut akan menjadi peluang besar dalam mempercepat mobilitas barang, menekan biaya distribusi serta memperkuat konektivitas ekonomi antarwilayah. Pelabuhan Linau bahkan dinilai berpotensi menjadi hub distribusi sekaligus jalur ekspor baru bagi komoditas unggulan dari Muara Enim dan Kabupaten Kaur.

Baik Gusril maupun Edison berharap rencana kerja sama tersebut mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah agar dapat berjalan lancar dan segera terealisasi.

“Kami berharap kerja sama ini bisa berjalan baik dan memberi manfaat jangka panjang bagi kedua daerah. Jika terwujud, dampaknya akan sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi, kelancaran distribusi barang, hingga kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kaur dan Muara Enim” tutup keduanya. (top)

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.